Language :    
News

12 Jun 2017
Harimau muncul di kawasan HTI dan sawit, perusahaan harus bersikap

PEKANBARU (EoF News)- Video amatir yang diunggah di akun facebook pribadi SiBirong Birong sempat viral dibicarakan beberapa pekan belakang. Video tersebut menampilkan seekor harimau berada di kawasan HTI milik PT Arara Abadi. Harimau besar itu berjalan mendekati pekerja perusahaan yang sedang panen akasia.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) telah melakukan komunikasi dengan pihak PT Arara Abadi (grup Asia Pulp & Paper/APP) terkait munculnya harimau di lahan konsesinya pada saat pemanenan, di Distrik Sorek, Pelalawan, Ahad, 4 Juni 2017 lalu. Harimau hampir menyerang seorang pekerja.

Humas BBKSDA Riau Dian Indriati mengatakan, menurut pihak Arara Abadi, memang harimau tersebut berada di areal Distrik Sorek yang dekat dengan lanskap Tesso Nilo dan Kerumutan. Video tersebut diambil oleh pegawai kontraktor alat berat.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa predator yang memiliki daya jelajah yang luas. Tidak hanya di kawasan hutan alam saja bahkan juga kawasan dengan aktifitas manusia yang tinggi seperti kawasan hutan produksi dan perkebunan. Selain itu, satwa ini khususnya individu - individu muda bermigrasi lokal untuk mencari teritori sehingga mereka sering kali melintasi kawasan aktifitas manusia untuk berpindah dari satu kantong populasi ke kantong yang lain.

Febri A. Widodo, Research and Monitoring WWF Central Sumatera, mengatakan, harimau yang tua maupun sakit biasanya cenderung tertekan keluar habitatnya sehingga mereka kemungkinan dapat berada pada kawasan padat aktifitas manusia.

Febri juga menjelaskan bahwa harimau memiliki kecenderungan untuk hidup di kawasan ekoton (peralihan dua zona ekologi yang berbeda) seperti hutan sekunder yang berbatasan dengan perkebunan atau pemukiman. Tentunya yang memenuhi persyaratan untuk hidup harimau seperti ketersediaan mangsa, air, tutupan lahan, interaksi dengan harimau lain misalnya untuk berkembang biak dan minimnya ancaman. Sehingga tidak menutup kemungkinan harimau juga terdeteksi di kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI).

“Kemunculan video tersebut merupakan informasi bagus bahwa harimau masih bisa bertahan di dalam kawasan-kawasan konsesi yang juga merupakan habitat atau perlintasan antar habitat oleh harimau. Namun disisi lain, perlu mendapat perhatian serius terkait berbagai kemungkinan buruk seperti konflik dengan pekerja konsesi, serta perburuan,” Febri menambahkan. Mengingat tingginya kebutuhan akan bagian tubuh harimau oleh penjahat satwa liar.

 “Kalau bisa jangan disebarluaskan tanpa adanya kawalan intervensi dan pengelolaan harimau,” jelas Febri.

Menurut catatan EoF News, dalam kurun sebulan terakhir, telah terjadi setidaknya 2 kejadian konflik harimau dan manusia di Riau, meskipun tidak menimbulkan korban luka di kedua pihak.

Selanjutnya yang harus dilakukan pihak perusahaan menurut Febri ialah melakukan berbagai tindakan yang tentunya terintegrasi dengan banyak pihak. Seperti sosialisasi, patroli, pemantauan berkala dan pendampingan karyawan perkebunan maupun masyarakat tempatan. Selain itu prosedur keselamatan pekerja dan masyarakat juga penting.

Pihak pemegang konsesi juga harus melakukan pembersihan tutupan semak, dan tumbuhan bawah pada areal kerja sehingga tidak digunakan untuk bersembunyi yang membahayakan pekerja. Juga menerapkan Better Management Practices (BMP) serta mengelola HCV (high conservation value, nilai konservasi tinggi) seperti koridor satwa dan keberadaan satwa mangsa harimau.

Menanggapi konflik yang terjadi dengan sifat insidental maka perlu dilakukan monitoring untuk memastikan keamanan manusia serta meminimalkan kontaknya dengan harimau. Pemilik perusahaan juga harus memiliki tim terpadu dengan bekal pengetahuan dan kemampuan yang cukup. Selain itu perlu dukungan perlengkapan berupa kendaraan dan perlengkapan safety lainnya.                 

“Pelestarian harimau adalah tanggung jawab semua pihak, maka sebaiknya pihak perusahaan melakukan tindakan yang terintegrasi pula dengan banyak pihak,” tutup Febri.



***


EoF is a coalition of three local environmental organizations in Riau, Sumatra, Indonesia : WWF Indonesia's Tesso Nilo Programme, Jikalahari ("Forest Rescue Network Riau") and Walhi Riau (Friends of the Earth Indonesia). It was launched in December 2004 to investigate the state of Riau''s forests and the players who influence it.
View Profile
EoF Maps

Subscribe

Feed Twitter Facebook Youtube
 
 
 
Copyright © 2011 Eyes On the Forest. All Right Reserved.